Saat bertemu orang yang tepat, kamu akan menyadari bahwa bukan karakteristik positif yang ia punya yang membuatmu suka, melainkan perasaan terhadap dirimu sendiri saat kamu sedang bersamanya.
Apakah kamu merasa cukup? Menyukai dirimu sendiri? Bisa menjadi apa adanya tanpa merasa dituntut?
Kalau iya, selamat! Sebab, bisa jadi dia memang orang yang tepat.
Namun, hal tersebut tak selalu bisa langsung terwujud dalam satu dua kali perjumpaan. Bisa saja sekarang, kamu menjawab tidak untuk semua pertanyaan di atas, namun bukan berarti kamu harus segera mengakhiri hubungan dan mencari kembali.
Sebab, kamu dan dia, mungkin perlu belajar dan bertumbuh lebih lama lagi. Belajar mengenal dan menerima diri masing-masing dan memanusiakan satu sama lain.
Kalau sekarang merasa belum tepat, bisa jadi satu atau dua tahun lagi berbeda.
Tapi, jangan lupa dengarkan kata hati. kalau rasanya hidupmu selalu tidak nyaman atau bahkan ketakutan, kamu selalu punya pilihan untuk melepaskan.
Ada manusia baik yang tak tahu cara mengeksperiksan emosi, mereka bisa menjadi marah saat sedih dan takut, tak tahu cara menunjukan sayang sehingga terasa tak perhatian.
Kamu punya pilihan untuk memberikan kesempatan.
Ada manusia baik yang tak tahu cara mengekspresikan emosi, mereka bisa menjadi marah saat sedih dan takut lalu melampiaskan menjadi satu dua makian sesekali pukulan.
Kamu pasti tahu harus apa. Jangan menetapkan standar terlalu rendah hanya karena tak mau sendiri.
Selamat mencari, selamat menemukan!
In Thought
Refleksi dari Penafsiran Asal-Asalan Lagu-Lagu di Album Baru Fourtwnty
Posted on Friday, 1 June 2018
Ego & Fungsi Otak sebagai judul album terasa sangat tepat membungkus tema sebagian besar lagu pada album baru ini. Beberapa lagu merupakan upaya refleksi yang diutarakan seseorang yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya, seperti Nyanyian Surau dan Kita Pasti Tua. Ada pula lagu cinta, baik yang sedang berbunga-bunga atau yang patah hati sampai ...
Seperti lagu-lagu indie pada umumnya (atau non indie sekalipun), lagu-lagu Fourtwnty begitu multitafsir dan bisa dimaknai dengan sangat subjektif. Sesuai kondisi, pemahaman, pengalaman, hingga asumsi pendengar.
Begitupula dengan tafsiran saya: begitu subjektif. Tapi biarlah saya melepaskan "gangguan" ini dengan mencoba memaknai beberapa lirik lagu Fourtwnty dengan versi saya sendiri.
Nyanyian Surau
Kamu mencoba mengenang masa mudamu. Masa-masa ketika kamu tak tentu arah. Penuh upaya mencari kegembiraan dengan emosi yang meluap-luap yang kini telah redup. Pelan-pelan kamu mengingat bagaimana tindakanmu dulu membuatmu sakit sendiri. Mungkin dengan menjajal narkotika atau kenakalan lainnya sampai kamu tak bisa berpikir menggunakan akal sehatHingga sulitku berdamai dengan Nalar tak terkontaminasiSemua kamu lakukan karena dulu kamu begitu butuh pembuktian diri, haus pujian sampai lupa diri.
Kini, semuanya telah terasa kebas. Rasa dan keinginan menggebu-gebu di masa muda dulu telah tiada. Telah mati suri.
Saat candu belum mati, kamu mengalami berbagai kehilangan. Mungkin kehilangan orang atau akal sehatmu sendiri. Kamu pernah tenggelam dalam kegilaan, berada di tempat yang menjadi konsekuensi tindakanmu. Bisa jadi penjara atau lebih buruk dari itu.
Mati suri candukuKamu lebih riang (dan tenang) sekarang karena hasrat yang mengikat itu sudah redam. Sebabnya, sebuah petunjuk dari Tuhan, mungkin sebuah kitab suci dan kini kamu telah damai di sebuah surau tua.
Mati suri canduku
Realita
Lagu ini sempat sedikit mengingatkan saya pada lagu ERK berjudul Kenakalan di Era Informatika. Bedanya, jika lagu ERK secara gamblang menunjukkan keresahannya soal maraknya konten/perilaku pornografi yang beredar pada masa itu, lagu ini seperti seorang teman yang berkata, “Ngaku aja deh lo, pernah gini kan.”Alih-alih soal pornografi, lagu Realita lebih luas dari itu, walau mungkin payungnya tidak jauh berbeda, soal kenakalan masa muda.
Nafsu dulu baru logika. Tinta biru tinggal cerita- Realita
Tutup mata tutup telinga. Perhitungan pun tak ada- Realita
Tapi lagu ini gak mencoba menghakimi atau menyesali siapa/apa pun. Sesuai judulnya, lagu ini hanya ingin memaparkan sebuah realita. Maka,
"Tolong tunjuk tangan siapa yang pernah mencoba," begitu katanya.
Kusut
Inilah yang kamu rasakan saat patah hati: Kusut. Saya menginterpretasikan lagu ini sebagai lagu putus cinta. Tentang kamu yang belum bisa menerima usai ditinggalkan. Hingga merasa “sakit” dan “lumpuh”. Kamu tak menemukan dirimu sendiri tanpanya. Kamu merasa hanya sedang berpura-pura terbiasa lupa.Terlihat ku palsuWalau pada akhirnya kamu sadari, bahwa dia bukan yang terbaik buatmu.
Tanpa rasamu, menjamahku
Mungkin bukanlah wujudmu
ranjang ternyaman bagiku
Tetap saja kamu kepayahan melepaskannya. Sampai terasa begitu kusut. Kamu merasa lumpuh tanpanya. Tanpa seseorang yang biasa ‘menuntunmu’.
note: yang favorit di sini, ada semacam efek bunyi rintik hujan (atau percikan api?) yang menambah kenikmatan lagu.
Trilogi
Mari kita mulai dari bait terakhir:Maafkan ini karenaku. Biang masalah masa lalu. Bertemu faham-faham itu. Simpang siur kini namaku.Lagu ini seperti sebuah pengakuan seorang pelaku teror (teroris?) akibat banyak faham sesat yang dipelajarinya dulu. Kini, ia justru tak tahu mana yang benar dan salah. Ia telah simpang siur. Tapi, ia tahu ia telah menyebabkan kekacauan.
sesal dan kumaluSebuah lagu penyesalan yang tak bertemu solusi hingga akhir kisahnya. Selain sesal, ada kesedihan dan amarah mendalam karena telah berhasil dijadikan “alat” peneror oleh orang yang kini ia coba lawan.
tangisanku tak membantuku
akhirnya nelangsa
yang menjamahku
menjamah aku
meradang egokuMakna lagu yang dalam tapi membuat saya bertanya-tanya, jika memang maknanya seperti yang saya tafsirkan di atas, adakah mereka sang pelaku teror betulan bisa merasakan hal tersebut?
meradang tangisku
menghadang tawamu
Segelas berdua
Akhirnya ada lagu romantis walau “sok tak bisa romantis”. Lagu ini tak terlalu terasa analoginya (paling tidak bagi saya). Liriknya pun jauh lebih mudah dicerna dari lirik lagu lain di album ini. Tentang pemuda yang menunjukan cintanya dengan cara yang “menurutnya tidak romantis dan tanpa rayuan”.Bukan tidak romantis deng, tapi romantis dengan cara yang berbeda. Nyatanya tetap berusaha menyenangkan kekasih dengan membawakan sebuah bunga. Walau tampak kaku dan tak biasa.
Kembang lili tak tahu maluTapi tetap berakhir dengan romantis:
Berada digenggam tangan kananku
Segelas berduaJadi, begitulah cara saya melepas "gangguan" ini. Selesai sudah, fyuh! Punya penafsiran atau tanggapan yang berbeda?
berwarna merah isi dan langitnya
di bawah aroma hamparan hijau
image credit: YouTube/Indie Play Id, Fourtwnty Music
Kubilang, biasanya mereka yang banyak komentar tentang fisik, begitu peduli sama fisik mereka sendiri. Barangkali itu proyeksi. Kamu nggak terima. "Kalau dia punya hati, harusnya dia gak setega itu ngebully orang lain." Menurutmu, itu gak bisa dijadikan alasan. Ketidakpuasan terhadap diri kenapa dilimpahkan pada orang lain.
Tenang-tenang, kataku sambil membetulkan jilbab.
Kamu duduk di pinggir tempat tidur, tetap bicara dengan kesal. "Mereka yang jerawatan udah sadar kalau mereka jerawatan, what is the point of saying 'muka lo jerawatan banget', nyebelin kan."
Aku mengangguk. Jarum pentulku hilang lagi. Aku sering heran ke mana perginya berkotak-kotak jarum pentul, si kecil itu bisa lenyap begitu saja. Kulihat ada satu di bawah kakimu, jadi aku menyuruh kamu mengangkat kaki dan kamu pun memilih tiduran sekalian di tempat tidur.
Di depan tempat tidur ada kaca kecil yang menggantung. Kamu melihatnya dan mulai buka mulut lagi. "Eh eh," katamu, "Gw kok gendut banget yah." Kataku kamu berlebihan. Menurutku kamu memang tidak gendut tapi tidak kurus, itu ideal namanya.
Tapi kamu bilang ucapanku hanya pemanis saja. Aku sih tidak memaksa. Lebih baik aku pikirkan matang-matang lip cream apa yang akan kugunakan. Aku tak terlalu suka warna cokelat tapi entah kenapa aku merasa wajahku lebih baik dengan warna tersebut.
"Gw mau diet ajalah, tembem banget sih ini mah. Lo liat gak sih lengan gw? Gede banget loh." Aku lihat sebentar sebelum akhirnya memoles lip cream, kusempatkan bilang "Biasa aja ah"
Kamu melihat lenganmu dengan sebal, cirinya mulutmu mengerut. "Kemarin gw pake baju yang modelnya sama kaya baju lo itu. Di gw tuh jadi jelek gitu loh. Kayak ibu-ibu. Gara-gara lengan gw ini gede banget."
Saat itu, aku sih gak keberatan mendengar lebih banyak keluhan soal lengan, tapi kayaknya harus dihentikan kalau gak aku bisa terlambat pergi. Jadi aku selesaikan dulu soal lip cream di bibir ini sebelum akhirnya berpaling padamu.
"Dibandingkan semua netizen kejam yang bisa ngehina orang lain yang gak dikenal, lebih kejam mereka yang udah kenal baik sama diri sendiri tapi masih sering mencela diri mereka sendiri."
Kenapa orang bisa begitu simpati sama orang lain tapi jahat sama diri sendiri?
Kamu bilang kamu gak ngerti aku ngomong apa, tapi aku yakin sebenarnya kamu mengerti soalnya setelah itu kamu diam saja.
Memangnya diri sendiri seperti apa? Yakin sudah cukup kenal dan benar mengidentifikasikan diri sendiri?
Manut sama pemahaman Victoria Ayres, menurutnya diri kita yang sebenarnya adalah ketika kita mampu melepaskan semua cerita, label, dan penilaian pada diri kita. Tanpa topeng dan sikap mengadili diri sendiri.
In Thought
Review Aroma Karsa: Mengejar Obsesi dari Olfaktori sampai Gunung Lawu
Posted on Monday, 9 April 2018
"Ke tanah kami berpulang, ke kahyangan kami melanjutkan kehidupan. Tak ada yang abadi. Sampai bertemu lagi."
Sumber gambar: Pinterest, detikHot




























